Inisiasi KIA untuk Cisdi Dan Benihbaik.com

Inisiasi KIA untuk Cisdi Dan Benihbaik.com

Inisiasi KIA untuk Cisdi Dan Benihbaik.com

Written by LGI Network

16 April 2021

edMalangCenter for Indonesia’s Strategic Development Initiatives atau lebih di kenal (CISDI) pada Jumat (16/04/2021) memfasilitasi sesama CSO lainnya untuk mempresentasikan kegiatan Kesehatan Ibu Dan Anak. Dalam kegiatan presentasi kali ini Lingkar Gagasan Indonesia (LGI) diberikan kesempatan untuk mempresentasikan inisiatif akar rumput yang ikut berkontribusi untuk mengkampanyekan Kesehatan Ibu dan Anak ditengah situasi Covid-19.

Di Kabupaten Malang sendiri upaya penurunan kematian Ibu dan Bayi baru lahir masih menjadi pekerjaan rumah yang cukup besar dengan berbagai faktor/penyebab masalahnya, namun upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Malang menunjukkan adanya trend yang cenderung turun dari kasus kematian Ibu 21 kasus (2016) menjadi 81 kasus (2017) dan 17 kasus (2018), jumlah AKI tersebut masih tergolong tinggi di Jawa Timur (10 besar) dari 33 kab/kota. Adapun contoh AKB di Kabupaten Malang telah berada di bawah target nasional, yakni 64 kasus = 1,61/1000KH (2017) dan 84 kasus = 2,18/1000KH (2018) serta pada tahun 2019 sampai dengan bulan Mei terjadi 42 kasus = 2,07/KH. Walaupun pencapaiannya telah jauh dibawah target nasional, namun mengingat penyebab kematian tertinggi pada bayi baru lahir adalah kasus BBLR (Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah), Infeksi, Asfiksia  yang dilahirkan oleh ibu-ibu dengan kualitas kehamilan yang buruk, misalnya karena menderita penyakit menular, tidak menular, bawaan atau dengan status gizi buruk, yang sebenarnya apabila dapat ditemukan lebih dini maka akan dapat dilakukan upaya pendampingan pada ibu hamil resiko tinggi (Sumber : USAID).

Dalam kesempatan presentasi inisiatif akar rumput kali ini merupakan kerjasama Cisdi dengan platform CSR benihbaik.com. Dalam paparan LGI kali ini, kegiatan yang di inisiasi 70% dilakukan secara online sedangkan 30% akan dilakukan secara offline dengan menjangkau kelompok – kelompok yang paling rentan di Kabupaten Malang, akan tetapi presentasi kali ini tidak semulus yang diharapkan LGI, selain waktu yang sangat singkat tim LGI sendiri mengakui bahwa kurang persiapan perihal materi presentasi, sehingga mengalir begitu saja.  

“Nanti kawan – kawan LGI akan saya kirimi contoh proposal yang selama ini lolos pendanaan di Track SDGs – Cisdi” terang Fachri, yang saat itu mewakili tim Cisdi.

Tentu tidak itu saja bahkan, Puput Pradani dari Benihbaik.com akan membantu LGI untuk dalam proses sponsor atau penggalangan dana “Nanti akan kami bantu untuk penggalangan dana agar kedepan inisiatif dari tim LGI dilirik oleh CSR perusahaan ” terangnya.

Sebagai info tambahan, LGI merupakan lembaga nirlaba yang terbentuk atas dasar kesukarelawanan dan peduli terhadap isu – isu sosial, ada dana maupun tidak LGI akan tetap bergerak untuk kemanusiaan dengan berfokus pada komunitas akar rumput.

Kegiatan Kesehatan Ibu Dan Anak menawarkan keuntungan ganda yaitu mengurangi kematian ibu – bayi, dan disaat yang sama menurunkan permasalahan stunting. Upaya mengurangi bayi dengan berat badan lahir rendah, yang merupakan sebab utama kematian bayi baru lahir sekaligus pangkal dari stunting

akarumpu.id
akarumpu.id
logo lgi

Kesehatan Ibu Dan Anak

0

Related Articles

Bootcamp : Rangkaian Kelas Virtual Yang Handal.

Bootcamp : Rangkaian Kelas Virtual Yang Handal.

MALANG - Part 2. (selasa, 1 /12/2020). Pandemi Covid-19 yang merubah tatanan dunia tidak menyurutkan sebagian besar orang untuk belajar, kendatipun mereka tidak bisa tatap muka secara langsung bahkan bersalaman. Contoh kecil saja dari rangkaian  Bootcamp Indika...

Stay Up to Date With The Latest News & Updates

Access Premium Content

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque

Join Our Newsletter

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque

Follow Us

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque

Bootcamp : Rangkaian Kelas Virtual Yang Handal.

Bootcamp : Rangkaian Kelas Virtual Yang Handal.

MALANG – Part 2. (selasa, 1 /12/2020). Pandemi Covid-19 yang merubah tatanan dunia tidak menyurutkan sebagian besar orang untuk belajar, kendatipun mereka tidak bisa tatap muka secara langsung bahkan bersalaman. Contoh kecil saja dari rangkaian  Bootcamp Indika Foundation! Digelar kelas tematik memperkuat materi yang sudah dipaparkan secara maraton mulai 2 – 6 November 2020 yang dikemas dalam Kelas Indika Foundation (Kinton) 1 sampai 4 session. Ulasan Kinton 1 yang telah diulas pada edisi Senin (9/11/2020) menjadi ajang “pendalaman” materi tematik yang bisa dipilih peserta Bootcamp dalam kelas-kelas terpisah sesuai minat dan fokus peserta. Pada Kinton 2 yang digelar pada 14 November 2020 tim LGI (lingkar Gagasan Indonesia) ikut serta dalam materi yang digelar dengan tema “Membuat & mengevaluasi strategi komunikasi” oleh Michael Chang, Founder Inspect History dan “Membuat konten yang berdampak dan menginspirasi di media sosial” oleh Adeste Adipriyanti, produser Eksekutif Narasi. Mereka mengulas tentang strategi komunikasi melalui media sosial untuk menarik publik untuk mengikuti konten dan pesan yang diusung. Di era milenial seperti sekarang ini media sosial sangat efektif untuk menyampaikan pesan maupun ajakan melalui konten-konten kreatif yang disuguhkan. Semua itu dijelaskan dengan ‘gamblang’ oleh kedua narasumber yang sudah expert di bidang content creator platform online tersebut. Peserta merasa mendapat banyak insight tentang materi ini terlihat banyaknya penanya yang antusias mengajukan pertanyaan seputar tema. Tidak ketinggalan tim LGI yang tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menambah khazanah menjaga relasipengetahuan tentang konten kreatif dalam komunikasi melalui media sosial.  Disela-sela rangkaian Kinton, tim IF juga membuka mentoring tugas pembuatan proposal dan materi lainnya yang dipandu oleh fasilitator kelas masing-masing. Dan serunya lagi mentornya juga langsung dilayani oleh pemateri utama di bootcamp. Pada 22 November digelar Kinton 3 dengan tema “ Bagaimana menciptakan ekosistem bekerja yang sehat” oleh Emilia Savira, Senior Officer for Monev Indika Foundation. Dan tema sesi kedua “ Mengatasi tantangan manajemen anggota dan relawan di Organisasi sosial  oleh Marsya Nurmaranti, Executive Director Indorelawan.

“Bagaimana sebuah organisasi bisa ‘survive’  dengan cara mengelola Sumber daya manusia  dalam lingkungan kerja yang sehat?” kata kak Emil (sapaan akrab Emilia Savira). di sesi lain Marsya yang merupakan narasumber kedua lebih banyak membicarakan tentang manajemen kerelawanan dalam organisasi sosial. “Dalam sebuah organisasi sosial atau NGO atau social enterprise peran anggota baik staf tetap maupun sukarelawan merupakan aset organisasi yang sangat penting untuk dimiliki. Maka dari itu pengelolaan sumberdaya manusia yang baik dan sehat menjadi point penting sebagai penggerak utama untuk mencapai visi dan misi organisasi” Ucap Marsya.

Baca Juga : Menembus Ruang dan Waktu Di Bootcamp 2020

di Sesi mentoring kali ini pula tugas pembuatan proposal merupakan ajang pembelajaran bagi peserta bootcamp untuk mengasah seberapa mampu peserta menangkap materi yang telah diberikan mentor selama bootcamp. Rangkaian pembuatan proposal mencakup perencanaan program dan pembuatan anggaran dan diakhiri dengan merencanakan monitoring dan evaluasi. Tahapan-tahapan itu yang sangat penting bagi peserta dalam menjalankan aktivitas organisasinya. Maka dari itu pihak IF sangat intens mengawal mentoring materi berdasarkan tugas yang sudah dikirim kepada panitia bootcamp  terkait Perencanaan Program, Pembuatan proposal dan Monitoring dan evaluasi yang digelar secara maraton dalam sehari   pada tanggal 24 November. Disitu peserta bisa konsultasi sebanyak- banyaknya melalui kelas-kelas konsultasi berdasarkan materi. Sangat terbuka dan sistematis proses mentoring yang digelar dengan menggunakan link Google Jamboard. Ini menjadi pengalaman yang menarik bagi peserta untuk mengelaborasi pemahaman dan praktek yang dituangkan dalam tugas yang dikumpulkan.  

Source : IG. if.bootcamp

https://www.instagram.com/lingga_indonesia/?hl=id

Hari AIDS Sedunia 2020 : Mengakhiri Epidemi HIV & AIDS di Tengah Gempuran COVID-19

Hari AIDS Sedunia 2020 : Mengakhiri Epidemi HIV & AIDS di Tengah Gempuran COVID-19

Penulis : Yoga Ardianto

Sebuah Refleksi Menuju Zero AIDS 2030

Menjelang di penghujung tahun, pada setiap 1 Desember, seluruh dunia memperingati Hari AIDS Sedunia. Sebagian besar warga dunia bersatu untuk menunjukkan dukungan kepada orang yang hidup dan terdampak oleh HIV, mengenang mereka yang kehilangan nyawa karena AIDS, merefleksikan apa yang sudah dilakukan untuk melawan HIV dan membangun harapan dan mimpi bersama bahwa pada saatnya nanti HIV bisa dikalahkan. Setiap tahun peringatan Hari AIDS Sedunia jamak dilakukan oleh pegiat, aktivis, relawan, orang yang terdampak HIV (ODHA – Orang dengan HIV & AIDS), pemerintah, LSM, akademisi bahkan sampai masyarakat umum yang peduli terhadap HIV dengan berbagai kegiatan demonstratif untuk menunjukkan kepada dunia bahwa HIV masih menjadi ancaman kesehatan sampai saat ini. Mereka (para ODHA) yang selama ini berada di ‘balik tirai’ dan arena ‘pertempuran’ melawan HIV karena stigma dan diskriminasi yang kuat, pada momentum 1 Desember menemukan jalannya untuk menunjukkan ke public dan menjadikannya semacam ‘sinyal peringatan’ tolong jangan jauhi kami – jauhi virusnya bukan orangnya – kami setara dengan anda.

Sejarah Peringatan Hari AIDS Sedunia

Menarik sekali sebelum melangkah ke depan, sejenak kita melihat ke belakang, sampai saat ini sudah seperti apa penanganan AIDS yang sudah dilakukan di tingkat nasional bahkan sampai ke tingkat lokal? Sudah seperti apa kita memperlakukan teman, saudara dan komunitas yang terpapar HIV & AIDS? Bagaimana sebagian kita yang mengerti HIV & AIDS mengedukasi masyarakat tentang bahaya HIV apakah sudah menjangkau masyarakat keseluruhan? Bagaimana stigma dan diskriminasi terhadap ODHA sampai saat ini? Bagaimana dukungan kebijakan, anggaran dan kelembagaan untuk penanggulangan HIV & AIDS? Dan tentunya banyak sederet pertanyaan lain yang akan muncul.

Estimasi jumlah kasus HIV/AIDS di Indonesia sebanyak 640.443, tapi yang bisa dideteksi sejak tahun 1987 sd. 31 Maret 2020 hanya 511.955 (sumber P2P Kemenkes RI, Maret 2020)atau 79,94 persen. Itu artinya ada 128.499 Odha (Orang dengan HIV/AIDS) yang tidak terdeteksi. ODHA yang tidak terdeteksi ini jadi mata rantai penularan HIV/AIDS di masyarakat karena mereka tidak menyadari dirinya mengidap HIV/AIDS. Ini terjadi karena tidak ada tanda, gejala atau ciri-ciri yang khas pada fisik ODHA dan tidak ada pula keluhan kesehatan yang khusus merujuk pada penyakit HIV/AIDS. Selain itu merujuk pada data UNAIDS terkait kasus baru HIV di Indonesia pada tahun 2016 terdapat kasus baru 48 ribu, tahun 2017 ada 49 ribu dan di tahun 2019 terdapat 46 ribu kasus baru. Melihat data tersebut bisa dikatakan masih cukup tinggi laju tingkat penularan HIV yang terjadi. Belum lagi kondisi setiap tahun yang selalu muncul, berkaitan dengan ketersediaan ARV di rumah sakit yang dirasakan belum mencukupi bagi ODHA karena distribusi yang terhambat sampai persoalan – persoalan tingkat dewa yang tidak mudah untuk mengurainya misalkan proses impor ARV, ketergantungan pembiayaan ARV pada donor, sampai pada tingkat manajemen distribusi.

Apa yang terjadi sekarang setidaknya mencerminkan apa yang sudah dilakukan di belakang, sehingga hal ini bisa menjadi refleksi bagi kita bersama dan evaluasi untuk aksi selanjutnya. Sekira 10 tahun yang lalu tantangan dan dinamika yang ada tentunya akan berbeda dengan tantangan 10 tahun ke depan, dimana cita-cita zero AIDS 2030 ditasbihkan di tahun 2020 ini yang berbarengan dengan adanya pandemi Covid-19 yang meluluhlantakan sendi – sendi kehidupan umat manusia yang telah dibangun selama ini.

Menuju cita – cita Zero AIDS 2030 di tengah tantangan pandemi Covid-19

Di tahun 2020 ini, dunia dihentakkan dengan adanya pandemi Covid-19 termasuk Indonesia yang menyatakannya pada awal Maret 2020. Hal ini tidak hanya mempengaruhi kehidupan manusia dalam ranah kesehatan saja, tetapi juga sangat mempengaruhi semua sektor kehidupan manusia.  Pandemi COVID-19 telah menghadirkan tingkat kerentanan hidup yang luar biasa bagi umat manusia dimana segala sesuatu koneksi langsung antar manusia dibatasi, sesuatu yang belum pernah terjadi pada peradaban manusia di abad millennium dan hal ini berhubungan sekali dengan situasi – situasi kritis sosial, ekonomi, HAM, kesetaraan gender dan lainnya.

Selain hal di atas, Covid 19 juga menunjukkan terbangunnya rasa empati, kepedulian dan kerjasama antar sesama manusia, setidaknya memunculkan sikap bersama akan adanya ‘common enemy’ yang harus dihadapi bersama supaya situasi semakin tidak memburuk. Di tengah situasi hantaman COVID-19 seperti itu, penanganan HIV & AIDS mendapatkan beban tambahan dimana semua orang yang bergelut dengan penanganan HIV & AIDS maupun mereka yang terpapar oleh HIV, harus memastikan bahwa mereka harus tetap terlindungi dari COVID-19 di setiap level resiko dan situasi sosial yang dihadapi, karena bila tidak hal itu akan semakin memperburuk situasi dalam berbagai sector, tidak hanya terkait layanan kesehatan HIV saja.

hari aids sedunia

Di tengah tantangan kondisi seperti ini tentunya sesuai dengan tema peringatan Hari AIDS Sedunia diperlukan solidaritas global untuk mencapai akhir AIDS 2030 dengan memastikan sistem kesehatan semakin diperkuat, layanan HIV yang mudah di akses oleh siapapun, pembiayaan yang mencukupi, penghormatan terhadap HAM pada kelompok resiko tinggi dan populasi kunci yang terpinggirkan serta pemenuhan hak perempuan dan anak dalam koridor kesetaraan gender. Solidaritas global ini dibangun tidak hanya dari mereka saja yang berkecimpung dalam penanganan HI, tetapi siapapun bisa berkontribusi positif dalam upaya mengakhiri AIDS di 2030. 

Tentu menjadi harapan semua pihak, dalam kurun waktu 10 tahun mendatang cita – cita (yang ambisius) ini bisa terwujud, melalui percepatan – percepatan strategi penanggulangan HIV yang inovatif, pelibatan – pelibatan banyak pihak dalam berbagai level struktural maupun kultural dan semakin terkikisnya faktor penghambat penanganan HIV terkait dengan stigma dan diskriminasi. Menjadi harapan kita semua 10 tahun ke depan, penanganan HIV menjadi sesuatu yang dinamis, tidak stagnan dan 1 Desember bukan hanya menjadi kegiatan seremonial yang hanya berisi jargon – jargon tanpa perubahan.

Melalui peringatan Hari AIDS Sedunia 1 Desember 2020 di tengah pandemi Covid-19 ini, LGI memberikan penghormatan yang sebesar – besarnya kepada mereka yang telah berjuang di garis depan penanggulangan HIV & AIDS dan mereka kelompok populasi kunci yang berada di tengah – tengah resiko ancaman tertular HIV. Bangun solidaritas global, akhiri AIDS di tahun 2030.

Diunggah oleh : Iwan