Kota Malang, 4 Mei 2026 — Upaya penanganan stigma, diskriminasi, dan kekerasan terhadap kelompok rentan HIV kembali menjadi sorotan dalam sebuah workshop yang digelar Lingkar Gagasan Indonesia di Aston Hotel Malang, Senin (4/5).
Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan komunitas perempuan rentan HIV, penjangkau lelaki seks dengan lelaki (LSL), penjangkau transgender (TG), serta pendamping orang dengan HIV (ODHIV). Mereka berbagi pengalaman lapangan sekaligus merumuskan langkah strategis untuk mengurangi berbagai bentuk hambatan sosial yang masih dihadapi.
Dalam forum tersebut, peserta menilai stigma dan diskriminasi masih menjadi tantangan utama yang berdampak langsung pada akses layanan kesehatan, perlindungan hukum, hingga kehidupan sosial komunitas. Tidak jarang, kondisi tersebut juga berujung pada kekerasan, baik secara verbal, sosial, maupun struktural.
Salah satu rekomendasi yang mengemuka adalah pentingnya memperkuat kerja sama dengan lembaga bantuan hukum (LBH) guna memastikan korban diskriminasi dan kekerasan mendapatkan pendampingan serta akses keadilan. Selain itu, peserta juga mendorong dibukanya kembali ruang komunikasi dengan pemangku kepentingan lokal, termasuk pelaku usaha hiburan malam dan asosiasi terkait, untuk membangun dialog yang lebih terbuka.
Peserta juga menekankan perlunya upaya membangun citra positif komunitas di tengah masyarakat. Hal ini dinilai penting untuk mengikis stigma yang selama ini berkembang. Sejumlah inisiatif yang diusulkan antara lain peningkatan keterlibatan dalam kegiatan sosial serta penguatan program pemberdayaan ekonomi.
Di sisi lain, komunitas juga didorong untuk menjaga konsistensi dalam menunjukkan perilaku yang konstruktif dan profesional sebagai bagian dari upaya jangka panjang mengubah persepsi publik.
Workshop ini menjadi bagian dari upaya mendorong pendekatan kolaboratif lintas sektor dalam penanggulangan HIV, sekaligus memperkuat posisi komunitas sebagai aktor utama dalam memperjuangkan hak dan kesejahteraan mereka.
